
Penulis: M. Sholekhudin
“Umat manusia sebetulnya sudah memiliki pengetahuan saintifik yang fundamental, secara teknis maupun industri, mengenai apa yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah karbon dan perubahan iklim.” (Stephen Pacala & Robert Socolow, Majalah
Science, Agustus 2004)
---
Al Gore, pelopor kampanye global perubahan iklim asal Amerika Serikat, mengutip pendapat dua ilmuwan Princeton University ini di film dokumenter peraih Oscar
An Inconvenient Truth. Dengan kutipan ini, ia hendak meyakinkan seluruh umat manusia bahwa kunci masalah perubahan iklim adalah kemauan. Problem ini bisa diatasi jika semua penduduk Planet Bumi sepakat melakukan usaha secara bersama-sama.
Untuk menyebarkan gagasannya ini ke seluruh penjuru dunia, Al Gore rajin mempromosikan film yang ia buat bersama para produser di Hollywood tersebut. Selain itu, ia juga terus aktif memberikan presentasi mengenai perubahan iklim di berbagai forum. “Bukan hanya dari negara ke negara, tapi juga dari kota ke kota, keluarga ke keluarga, hingga orang ke orang,” katanya. Kegigihannya memang tak sia-sia. Sekalipun target yang hendak dicapai masih terus diperjuangkan, saat ini isu pemanasan global telah menjadi kesadaran global.
Di seluruh dunia, ia telah melatih ribuan orang dari berbagai negara. Tiap-tiap orang yang ia latih itu kemudian bertindak menjadi juru kampanye di komunitasnya masing-masing. Mirip sistem
multilevel marketing. Para relawan juru kampanye itu tersebar di berbagai negara. Di Indonesia, mereka yang pernah mengikuti langsung pelatihan Al Gore terhimpun dalam perkumpulan The Climate Project (TCP) Indonesia. Anggotanya dari berbagai kalangan. “Mulai dari dosen, pengusaha, pegawai negeri sipil, staf lembaga swadaya masyarakat, hingga wartawan,” kata Amanda Katili Niode, ketua TCP Indonesia. Amanda adalah orang Indonesia pertama yang mengikuti pelatihan Al Gore, yang saat itu dilakukan di Kanada, April 2008.
Seperti Al Gore, para relawan itu juga rajin mengampanyekan masalah perubahan iklim di berbagai forum. Bukan hanya dari kota ke kota, kampus ke kampus, kantor ke kantor, tapi juga dari arisan ke arisan, bahkan dari orang ke orang. “Hari Minggu nanti, saya mau memberikan presentasi ke-14. Audiensnya peserta arisan,” kata Suzy Hutomo, salah seorang relawan TCP Indonesia. Suzy, yang juga seorang pengusaha, adalah salah satu peserta asal Indonesia yang secara swadana mengikuti pelatihan Al Gore di Australia, Juli 2009.
Jauh sebelum itu, Suzy kebetulan telah aktif sebagai pencinta lingkungan. Tahun 2007, ia menonton film
An Inconvenient Truth. Film dokumenter ini rupanya begitu berpengaruh terhadap pandangannya. Ia mengaku, “Saya sampai setengah memaksa semua anggota keluarga saya menonton film itu.”
Sesudah menonton film itu, ia kemudian membaca buku-buku Al Gore. Dari situ ia semakin paham mengenai masalah pemanasan global yang menyebabkan perubahan iklim. Data-data ilmiah yang disajikan oleh Al Gore membuatnya semakin yakin bahwa ia harus turut berbuat sesuatu. Perubahan iklim sungguh-sungguh sedang terjadi, dan dia bisa melakukan sesuatu untuk ikut ambil bagian dalam usaha meredamnya.
Perubahan iklim adalah masalah global. Karbon dioksida yang berasal dari kegiatan industri di benua Amerika atau Eropa akan berpengaruh terhadap intensitas hujan, banjir, dan puting beliung di Indonesia. Begitu pula sebaliknya.
Dalam pengamatan Suzy, hingga dua tahun yang lalu, belum banyak orang Indonesia yang benar-benar peduli terhadap isu pemanasan global. Bahkan banyak orang yang masih tidak percaya bahwa masalah itu memang sedang terjadi. Mereka merasa itu bukan masalah yang penting untuk dibahas.

Dari Amanda Katili, ia memperoleh informasi bahwa Al Gore hendak memberikan pelatihan di Australia. Al Gore memberikan kesempatan kepada 53 orang dari Indonesia untuk mengikuti pelatihan itu. Diharapkan, setelah mengikuti pelatihan, mereka bisa melakukan presentasi tentang perubahan iklim di komunitas mereka sebanyak sepuluh kali dalam setahun. Suzy pun mendaftar lewat internet, bersama dengan beberapa ratus orang lainnya.
Seleksinya tak mudah. Ia harus melewati tes yang lumayan menantang. Begitu dinyatakan lolos, ia harus berangkat ke Australia dengan biaya sendiri. “
The climate project itu proyek sukarelawan. Kami juga tidak boleh menerima imbalan jika melakukan presentasi,” katanya. Bukan itu saja, Suzy pun bahkan sering menjadi sponsor penyandang dana untuk acara-acara TCP Indonesia, atas nama usaha bisnis yang ia kelola, yaitu The Body Shop Indonesia.
Setiap ada kesempatan, ia melakukan presentasi. (Karena tugas presentasi ini, para relawan TCP Indonesia disebut sebagai presenter.) Pertama-tama, ia memberikan presentasi di lingkungan The Body Shop Indonesia. Setelah itu ia bicara kepada para jurnalis dari berbagai media massa. Kemudian ia meneruskan kampanye ke lingkungan perusahaan lain, kampus, hingga ke lingkup arisan keluarga. Pendeknya, setiap ada kesempatan, ia selalu berusaha menyempatkan diri untuk bicara tentang perubahan iklim.
Materi yang ia bawakan adalah
slide materi presentasi buatan Al Gore yang telah diadaptasi untuk Indonesia . Umumnya respons audiens pun sama seperti respons dia ketika pertama menonton film
An Inconvenient Truth. Sekalipun materinya cukup “berat”, isi presentasi tetap bisa dicerna oleh kebanyakan orang. Sekalipun tidak memiliki latar belakang pendidikan sains, umumnya audiens paham dan antusias mendengarkan presentasi tentang karbon dioksida, lapisan atmosfer Bumi, radiasi Matahari, dan sejenisnya. Kepada mereka, Suzy menekankan pentingnya upaya mendukung lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) lain yang peduli terhadap lingkungan seperti Greenpeace, WWF, Walhi, dan sejenisnya.
Sering kali, selesai Suzy memberikan presentasi, para audiens itu minta waktu mengobrol untuk menambah wawasan mereka tentang perubahan iklim. Ia mengaku begitu bahagia melihat mereka mulai berpikir tentang apa yang bisa mereka lakukan. “Saya senang memberikan presentasi pada anak-anak muda karena mereka sangat
receptive,” katanya. Meski begitu, tetap saja ada audiens yang skeptis terhadap isu lingkungan seperti ini. Mereka menganggap kampanye tentang perubahan iklim ini hanya sebagai tindakan menakut-nakuti masyarakat.
Ada pula yang menganggap isu ini bukanlah problem serius yang perlu dipikirkan. Ini pun persis seperti yang dialami Al Gore. Bahkan di negaranya sendiri pun, pemilik nama asli Al Gore pun mendapat banyak kritik dan komentar bernada cemoohan. Salah seorang senator AS sampai berkomentar, “Pemanasan global adalah kabar burung paling heboh yang pernah melanda rakyat Amerika.” Tapi toh itu semua tak membuat Al Gore berhenti. Maka, kalau ada audiens Indonesia yang skeptis, itu tak akan membuat surut para relawan yang sedang berkampanye untuk Indonesia yang lebih baik.
Boks-1
Green Office Sebelum berkampanye di kantor orang lain, Suzy selalu memastikan bahwa ia sudah menerapkannya di kantornya lebih dulu. Di Body Shop ia membentuk
environmental panel yang bertugas merencanakan semua bentuk aksi sadar lingkungan di lingkup kantor. Contohnya, penghematan air, listrik, dan kertas, serta pemanfaatan barang bekas, pembuatan biopori, dan sebagainya. Targetnya jelas, membuat kantor itu menjadi
green office.
Di kantor Suzy, kita bisa menjumpai banyak tanda perintah untuk berhemat listrik, air, kertas, dan larangan membawa kemasan styrofoam ke dalam gedung. Kantor juga menyediakan kamar mandi buat para karyawan yang berangkat kerja dengan bersepeda. Di akhir 2009 lalu, kantor Body Shop sampai mendapat penghargaan sebagai juara pertama Jakarta Green Office 2009.
Bukan hanya mengajak karyawan kantor, Suzy pun giat berkampanye pada keluarganya sendiri. Dia mendidik anak-anak dan pembantunya untuk berhemat listrik, air, plastik, dan sebagainya. Saat berbelanja, Suzy selalu membawa tas lipat sendiri untuk mengurangi konsumsi tas plastik dari toko swalayan. Di rumahnya, ia juga menerapkan pola pemilahan sampah rumah tangga. Dengan menggunakan keranjang Takakura (tempat sampah khusus), limbah organik diolah menjadi kompos.
Di luar pekerjaannya sebagai pengusaha, Suzy juga membantu sebuah yayasan yang bekerja sama dengan pemulung untuk menyalurkan tas yang dibuat dari bahan daur ulang sampah. Prinsip hijau ini juga ia terapkan di
sister company yang masih satu grup dengan Body Shop, yaitu Centro Department Store dan Kem Chicks Supermarket. Di sana semua kantong plastik yang sulit terurai sudah diganti dengan plastik khusus yang bisa terurai dalam waktu 6 – 12 bulan.
Bahkan dalam urusan makan pun, Suzy menerapkan prinsip-prinsip hijau. “
Reduce red meat consumption, or be vegetarian. Go green, save the Planet!” demikian prinsip hijau di dapur rumahnya, yang kemudian menjadi signatur emailnya. Tak tanggung-tanggung, untuk memastikan semua prinsip hijau ini berjalan di kantor maupun rumahnya, ia menerapkan sistem audit layaknya pemeriksaan keuangan. Pendek kata, sebelum berkampanye untuk orang lain, Suzy selalu berusaha menerapkan semua prinsip hijau di lingkungannya lebih dulu.
Boks-2
Kampanye Lewat Internet Untuk menyebarluaskan gagasan hijau, TCP Indonesia juga menggunakan media internet, termasuk Facebook dan Twitter. Dengan menggunakan nama akun The Climate Project Indonesia, para relawan ini menggalang dukungan untuk acara-acara yang mereka buat semacam Green Festival, penanaman pohon bakau, dan semua kegiatan lain.
Dalam usianya yang belum genap setahun, TCP Indonesia sudah melakukan banyak sekali kampanye. Pada 23 – 24 Oktober 2009, para sukarelawan melakukan kampanye secara besar-besaran. Mereka menyebar ke 18 kota di Indonesia, di 40 lokasi, untuk bicara dengan 60.000 audiens. Sebagian lainnya memberikan presentasi di Cina, Sri Lanka, dan Taiwan. Semua dilakukan secara swadana, swadaya, swakelola, tanpa bayaran.
Lewat internet pula, mereka berbagi kiat-kiat hidup ramah lingkungan. Sejak awal pembentukannya, TCP Indonesia memang lebih memfokuskan diri pada gerakan partisipasi masyarakat. “Kami fokus terhadap apa yang bisa kita lakukan,” kata Amanda. Persis seperti prinsip yang dianut TCP Indonesia, “
Everyone can do something.” Setiap orang bisa melakukan sesuatu.
Boks-3
Tempat Menyemai Ide Arif Hasyim, relawan lain, punya pengalaman serupa dengan Suzy Hutomo. Sejak kuliah, ia telah aktif di LSM yang peduli lingkungan. Begitu memperoleh informasi adanya pelatihan Al Gore di Australia, ia langsung mendaftar. Ketika dinyatakan diterima, ia pun menanggung sendiri semua biaya ke Australia. “Kesempatan seperti ini tidak sering datang. Jadi, apalah artinya biaya tiket dan akomodasi dibandingkan dengan kesempatan mendapat
training dari Al Gore,” katanya.
Saat bergabung dengan para relawan lain di TCP Indonesia, ia mengaku menemukan teman-teman yang ia butuhkan. Ide-ide yang selama ini hanya
nyangkut di kepalanya bisa direalisasikan dengan bantuan para relawan lain. Sekalipun semua relawan tergolong orang-orang sibuk dan sangat sibuk, mereka semua selalu meluangkan waktu untuk mendukung acara-acara TCP Indonesia.
Hingga kini ia sudah belasan kali memberikan presentasi di berbagai forum. Audiensnya mulai dari murid-murid SD, SMP, SMA, hingga pendengar radio, dan pemirsa televisi. Semua dilakukan tanpa bayaran.
Sama seperti Suzy, Arif pun selalu lebih dulu memulai gaya hidup hijau di lingkungannya sebelum mengimbau orang lain. Di rumah, ia lebih suka membuka jendela daripada menyalakan penyejuk udara (AC). Di kantor, ia lebih suka membiarkan cahaya Matahari masuk ruangan daripada menyalakan lampu.
Kebetulan rumahnya dekat dengan pasar swalayan, pusat kebugaran, bioskop, dan tempat publik lainnya. Jika pergi ke sana, ia tidak memakai mobil tapi berjalan kaki. Ke mana pun ia pergi, di dalam tasnya selalu tersedia tas belanja yang dilipat kecil untuk mengurangi pemakaian plastik. “Saya percaya, kalau kita terus-menerus mematrikan prinsip gaya hidup hijau ini di dalam diri kita, kita tidak sulit menerapkannya,” katanya. (Foto-foto Dok. Suzy Hutomo & TCP Indonesia)